Rabu, 27 Juni 2018

Analisis Sosiologis Cerpen PENUMPANG KELAS TIGA (Karya AA Navis)

Assalamualaikum rekan berbahasa! Pada kesempatan kali ini admin akan membahas tentang Analisis Sosiologis Cerpen Penumpang Kelas Tiga Karya AA Navis. Dalam artikel kali ini ada beberapa hal yang akan dibahas secara mendalam yaitu, Penentuan Latar Cerpen, Penentuan Peran dan Hubungan Antar Peran, Permasalahan Cerpen Secara Normatif, Permasalahan Cerpen Secara Fiktif, Permasalahan Cerpen Secara Objektif, dan Interpretasi Data. Langsung saja simak bahasan di bawah ini! Selamat membaca!

www.bahasbahasaa.blogspot.com


ANALISIS SOSIOLOGIS CERPEN

PENENTUAN LATAR

Cerpen Penumpang Kelas Tiga mengungkapkan kehidupan masyarakat pada dekade 80-an. Ada beberapa petunjuk dari data-data struktur cerpen ini tentang hal itu, seperti kutipan berikut.

“Si Dali bertemu teman lamanya di kapal Kerinci yang berlayar dari Padang ke Jakarta, sebagai penumpang kelas tiga. Bertemu setelah berlayar semalam, waktu lagi antre ke kakus”.

Kata-kata yang menunjukkan indikasi dekade 80-an itu adalah Kapal Kerinci. Sebab pada dekade 70-an ke bawah belum dikenal istilah kapal Kerinci. Kapal laut yang melayani trayek pada dekade 70-an adalah kapal Batang Hari dan kapal Tampomas.

Cerita ini juga mengambil latar pada masa awal revolusi, dimana masih ada perang dimana-dimana. Selama abad ke-20 telah terjadi banyak pemberontakan di Minangkabau terhadap rezim yang berkuasa, 3 diantaranya yaitu pemberontakan pajak terjadi tahun 1908. Pemberontakan lain terjadi di Silungkang yang dimotori oleh PKI yang terjadi pada tahun 1926/1927 dalam, dan pemberontakan PRRI yang terjadi tahun 1958-1961. Semua pemberontakan yang terjadi ini merupakan dampak dari rasa ketidakpuasan terhadap penguasa yang bertindak semena-mena. Hal ini terlihat dalam kutipan berikut.

“yang menjadi idola pada awal revolusi terutama oleh para gadis, ialah prajurit yang di pinggangnya tergantung pedang samurai dan kakinya dibalut koplars.

Melalui tempat dan waktu dalam cerpen ini dapat disimpulkan untuk sementara bahwa cerpen Penumpang Kelas Tiga berbicara tentang perubahan system sosial budaya Minangkabau. Perilaku tokoh cerpen dan kaitannya dengan data-data realitas objektif harus disellidiki untuk mendapatkan data-data sebagai bukti selanjutnya.

PENENTUAN PERAN DAN HUBUNGAN ANTAR PERAN

Sosok pribadi dalam masyarakat Minangkabau tidak hanya memerankan satu peran dalam kehidupannya, sosok pribadi itu selalu memerankan peran ganda, misalnya disamping peran sebagai pemimpin, bisa juga berperan sebagai bawahan, kepala keluarga, tokoh masyarakat, suami atau istri, kemenakan dan lain-lain. Karya sastra sebagai pencerminan tatanan kehidupan masyarakat, akan mengetengahkan berbagai peran yang diperankan tokoh cerita. Tidak ada dalam karya fiksi seorang tokoh cerita hanya memerankan satu peran saja. Pengarang akan memberikan berbagai peran terhadap tokoh-tokoh ceritanya.

Dalam cerpen Penumpang Kelas Tiga, seorang tokoh minimal memerankan dua peran. Tokoh-tokoh Nuan, misalnya, memrankan peran sebagai saudara kembar Nain, Nuan mendapat pangkat sersan satu dengan tugas sebagai pelatih TKR bagi prajurit baru, kemudian Nuan berperan sebagai letnan dua dibawah pimpinan Komandan Pasukan Hizbullah, Kolonel Hasan, setelah itu Nuan mendapat tugas baru sebagai staff bagian logistik, kemudian Nuan kalah perang PPRI dan jabatannya diturunkan menjadi pembantu letnan, selain peran tersebut Nuan juga berperan sebagai suami Wati dan sahabat Dali. Demikian juga tokoh lainnya seperti tokoh Nain yang berpern sebagai saudara kembar Nuan, Nain mendapat pangkat sersan satu dengan tugas sebagai pelatih TKR bagi prajurit baru, kemudian Nain bergabung dengan Tentara Merah Indonesia, setelah itu Nain mendapat tugas baru dalam kesatuan tempur di Front, kemudian Nain menang dalam perang PPRI dan mendapat jabatan sebagai Kapten, Nain juga diangkat menjadi mayor, selain itu Nain berperan sebagai suami dari Ina dan mantan kekasih dari Wati. Tokoh Wati berperan sebagai istri Nuan dan mantan kekasih Nain, dan tokoh Ina berperan sebagai istri Nain. Tokoh Dali berperan sebagai sahabat Nuan. Ayah Wati yang berperan juga sebagai mertua Nuan. 

Dengan demikian, sebuah peran dapat saja diperankan oleh beberapa tokoh sekaligus. Dalam hal penyelidikan permasalahan haruslah dilihat dari sudut peran dan bukan dari sudut tokoh. Permasalahan akan terlihat jika peran yang satu dihubugkan dengan peran yang lain. Beberapa peran yang diperankan tokoh-tokoh cerita tersebut dapat dihubungkan atau dikelompokkan menjadi (a) hubungan kakak beradik (saudara kembar laki-laki) (b) atasan dengan bawahan, (c) suami dengan istri, (d) kekasih (laki-laki) dan kekasih (perempuan), (e) hubungan teman dengan teman, (f) ayah dan anak, (g) mertua dan menantu.

Penelompokan peran-peran tersebut sekaligus dapat dipandang sebagai topik-topik yang dibicarakan pengarang dalam karyanya. Topik-topik ini dapat membantu peneliti untuk menelusuri lebih jauh permasalahan-permasalahan yang terdapat dalam karya sastra. Berdasarkan data-data hubunngan  peran di atas, setidak-tidaknya sudah ada tujuh kadidat permasalahan yamh disinggung pengarang dalam karyanya. Ketujuh kandidat permasalahan itu dapat dirumuskan melalui konflik-konflik tokoh yang memerankannya. Jika terdapat peran yang tidak didukung oleh konflik, hubungan peran tersebut tidak dapat dilanjutkan sebagai penanda adanya permasalahan. 

Contohnya adalah topik (e), teman dengan teman, yang tidak terdapat konflik antara dua peran  itu. Tidak ada konflik antara Dali dan Nuan. Begitu juga dengan topik(b) tidak ada konflik antara atassan dan bawahan, dimana saat Nuan dan Nain diturunkan jabatannya tidak bisa dilihat konflik yang terjadi, hubungan antara mertua dan menantu (g)dimana ayah Wati Nuan juga tidak terlihat konflik. Oleh karena itu, dalam hal ini topik (e),(b) dan (g) tidak bisa dilanjutkan sebagai permasalahan yang harus dikonfirmasikan  dengan konteks sosial.

Setelah mengikuti pola uji seperti di atas, tinggallah topik  (a) hubungan kakak beradik (saudara kembar laki-laki) (c) suami dengan istri, (d) kekasih (laki-laki) dan kekasih (perempuan),,(f) ayah dengan anak, dan (b) atasan dengan bawahan, (e) hubungan teman dengan teman, (g) mertua dan menantu, tidak dapat dilanjutkan sebagai penyumbang permasalahan, sebab topik-topik tersebut tidak didukung oleh konflik tokoh yang mendukung peran. Namun demikian, topik-topik itu masih berguna dalam menunjang penyelidikan. Topik-topik tersebut dapat dipandang sebagai latar tokoh atau pendukung peran.  

Topik hubungan kakak beradik (saudara kembar laki-laki). Didukung oleh tokoh Nuan dan Nain. Kedua tokoh ini merupakan saudara kembar. Topik suami dan istri ini didukung tokoh Nuan dan istrinya yang bernama Wati, dan Nain dan istrinya yang bernama Ina. Topik kekasih dengan kekasih ini didukung oleh tokoh Nain, Wati dan Nuan, dimana disini terdapat cinta segitiga diantara ketiganya. Hubungan ayah dan anak didukung oleh tokoh Wati dan ayahnya.

Dari empat topik di atas, topik antara kakak beradik (saudara kembar) ini yang paling banyak dibicarakan dalam cerita. Dengan demikian, topik saudara kembar laki-laki ini terletak permasalahan utama cerpen Penumpang Kelas Tiga, sedangkan topik-topik lain merupakan permasalahan penunjang, persentuhan tokoh-tokoh cerpen ini harus ditempatkan sebagai pendukung permasalahan hubungan saudara kembar ini.

PERMASALAHAN CERPEN SECARA NORMATIF

Kembar merupakan suatu peristiwa khusus dan jarang terjadi dalam suatu peristiwa kelahiran. Walaupun mereka berasal dari satu kelahiran yang sama, namun anak kembar tetaplah merupakan seorang individu yang berbeda, yang memiliki kemampuan dan keinginan yang berbeda dengan saudara kembarnya. Kembar adalah anggota dari pasangan dari keturunan yang dihasilkan pada satu kelahiran, kembar itu bisa fraternal twins (dizygotic), dari jenis kelamin yang sama atau berbeda dan biasanya tidak lebih mungkin daripada dua anak dari keluarga yang sama, atau identical twins (monozygotic), dari jenis kelamin yang sama dan sangat mirip dalam semua ciri-ciri. Banyak hal yang membuat anak merasa iri dengan saudara kembarnya nya sendiri, anak-anak kembar harus membagi perhatian ibu dan akibatnya dapat merasa tidak dicintai atau merasa benarbenar ditolak  Hal-hal inilah yang membuat anak merasa harus bersaing dengan saudara kandungnya untuk mendapatkan perhatian dari orang tua mereka atau hanya untuk sekedar menegaskan diri sebagai individu yang memiliki hak sendiri. Persaingan yang timbul antar saudara kandung ini oleh para ahli biasa disebut sibling rivalry

PERMASALAHAN CERPEN SECARA FIKTIF

Dalam cerpen Penumpang Kelas Tiga, tokoh Nuan berperan sebagai saudara kembar dari Nain. Orang yang bersaudara kembar sering punya selera sama, termasuk terhadap perempuan. Disinilah awal mula konflik yang terjadi antara Nuan dan Nain. Mereka berdua sama-sama menyukai satu wanita yang bernama Wati. Pada masa itu (awal revolusi) yang menjadi idola bagi para gadis adalah prajurit yang di pinggangnya tergantung pedang samurai dan kakinya dibalut kaplars. Karena pangkatnya yang rendah Nuan dan Nain tidak berhak memakai kedua perangkat perwira yang bergengsi itu. Ketika Komandan Pasukan Hizbullah, Kolonel Hasan, mengajak bergabung dengan pangkat letnan dua, Nuan meninggalkan tugasnya di TKR. Agar dapat pangkat yang sama Nainpun bergabung dengan Tentara Merah Indonesia. Hal itu mereka lakukan agar mereka berdua mendapat perhatian si Wati. Hal tersebut tampak pada kutipan berikut
   
“apalah arti perbedaan pasukan. Yang penting sama jadi letnan, sama punya pedang samurai dan pakai kaplars”
   
Sekian lama bergabung dengan pasukan yang berbeda idiologi perjuangan itu, membuat konflik antara keduanya semakin bertambah, malah semakin menumbuhkan perseteruan diam dalam diri keduany, sekaligus menimbulkan persaingan dalam merebut hati Wati. Namun pada akhirnya Nuanlah yang berhasil merebut hati Wati. Hal ini dikarenakan pemerintah melakukan kebijaksanaan rasionalisasi dengan menggabungkan seluruh kesatuan pejuang ke dalam TNI. Oleh kebijaksanaan pemerintah itu, pangkat semua perwira di luar TNI diturunkan dua tingkat. Nuan mendapat tugas baru sebagai staf pada bagian logistic, sedangkan Nain dalam kesatuan tempur di front.
   
Hal ini yang membuat ayah wati memilih Nuan sebagai suami Wati. Ayah wati berpandangan praktis dalam menetapkan siapa yang akan menjadi jodoh anaknya. Seperti tampak dalam kutipan berikut.
   
“Perwira bagian logistik akan lebih menjamin kebutuhan hidup rumah tanggamu. Sedangkan perwira di front lebih memungkinkan kau cepat jadi janda”.
   
Hal inilah yang membuat Nain kecewa akan Wati, namun Watipun tak bisa menentang keputusan yang sudah dibuat ayahnya. Seperti terlihat dalam kutipan berikut.

“Padahal  engkau membalas ciumanku. Tapi Nuan yang kau jadikan suami,” tempelak Nain kepada Wati.
“Apa dayaku, kalau ayah mau Nuan? Jawab Wati dengan nada memelas.
   
Konflik cinta segitiga antara Nain, Nuan, dan Wati tidak hanya sampai disitu saja. Ketika kemelut militer berjangkit dalam bentuk peristiwa PRRI, sekali lagi kesatuan Nain ditugaskan menumpas. Sedangkan Nuan yang ikut PPRI mundur ke hutan. Tapi Wati tnggal di kota. Ketika Nain datang mendapati Wati, yang ketika itu telah beranak dua, api dalam dada keduanya menyala lagi. Mereka bergumul lagi.disitulah terjadi lagi perselingkuhan di antara keduanya.

Akhirnya setelah kalah perang, Nuan kembali bergabung ke TNI dengan pangkat baru yang diturunkan lagi dua tingkat, menjadi pembantu letnan. Dia bertatapan dengan Nain yang sudah kapten yang menang perang. Dihadapan Wati. Setelah kejadian itu Nuan curiga ada main diantara Nain dan Wati. Hati Nuan luka, lalu dia marah dan kemudian dia benci yang membuahkan dendam yang tidak akan terhapus. Seperti terlihat dalam kutipan berikut

“ Khianat. Semuanya Khianat,” teriaknya berulang-ulang. Tapi Nuan hanyalah seorang yang prajurit yang kalah perang. Ia tidak dapat melakukan apa-apa. Bagi Nuan ia hanya bisa menerima apa yang yang dilakukan saudara kembarnya dengan pemikiran itulah ia akhirnya  menerima Wati kembali.

Namun, seolah-olah karma ikut berbicara. Pada saat pembrontakan kaum komunis pecah.. Nain yang kapten dan baru diangkat menjadi mayor ikut komunis. Nain ditangkap lalu dipenjarakan. Di saat-saat seperti itu timul keinginan Nuan untuk balas dendam terhadap saudara kembarnya. Ia ingin membalas dendam dengan cara meniduri Ina istri Nain yang cantic dan lebih muda, yang kini tinggal dirumahnya. Namun hal itu diurungkannya karena ia melihat Ina membuka baju sambil tersedu.

   
Dari gambaran cerita di atas tampak ketidakharmonisan hubungan kakak adik saudara kembar ini. Ketidakharmonisan ini terjadi karena perbedaan idiologi yang dianut serta memperebutkan satu wanita yang sama-sama mereka cintai,yang akhirnya menimbulkan cinta segitiga dan persaingan diantara keduanya. Hal yang paling memalukan pun terjadi ketika akhirnya terjadi perselingkuhan antara Wati dengan saudara kembar suaminya sendiri.  Namun, tidak seluruh kisah dalam cerita ini yang menggambarkan ketidakharmonisan hubungan kakak adik saudara kembar ini, di satu sisi mereka menyadari mereka dilahirkan dari rahim ibu yang sama, hati kecil merekapun sebenarnya masih terselip kasihsayang diantara keduanya. Hal ini tampak pada kutipan berikut.
   
“ Dia bertatapan dengan dengan Nain yang sudah kapten yang menang perang, dihadapan Wati. Sebentar, ya sebentar saja mereka sama terpukau saling memandang, lalu mereka berangkulan sebagai dua orang saudara kembar.”
“Tidak, dia tidak dapat melakukannya. Inna adalah istri saudara kembarnya. Mengapa dia harus membalass dendam kepada saudara kembarnya sendiri yang kini tengah mengalami siksa akibat ideologinya sendiri.”


PERMASALAHAN CERPEN SECARA OBJEKTIF

Untuk mendapatkan data-data objektif perlu dilakukan observasi lapangan terhadap perilaku sosial anggota masyarakat Minangkabau tersebut. Untuk kepentingan ini telah dilakukan suatu penyebaran angket utuk menjaring data sosial tentang hubungan saudara kembar yang berlangsung atau sedang berlangsung sesuai dengan masalah yang dirumuskan pada realitas fiktif. Sumber datanya diambil secara acak dari sepuluh orang yang memerankan saudara kembar. Mungkin sumner data ini belum representatif untuk keterwakilan perilaku sosial masyarakat Minangkabau yang kembar secara keseluruhan, tetapi dianggap cukup memberikan gambaran tentang hubungan saudara kembar dewasa ini.
   
Siuasi umum hubungan antara saudara kembar dewasa ini menurut responden yang menyatakan harmonis sekali 2,4% ,harmonis 17,6% ,biasa-biasa saja 20% , kurang harmonis 35%,dan tidak harmonis 25%. Jika situasi hubungan saudara kembar itu dibatasi di kampung atau di desa-desa dengan menekankan sikap dan perlakuan saudara kembar yang satu dengan yang lainnya, jawaban responden menunjukkan, baik sekali 30%, baik 30%, biasa-biasa 20% , kurang baik 15% dan tidak 5%.
   
Data- data itu menunjukkan bahwa keadaan hubungan saudara kembar dewasa ini berlangsung kurang harmonis. Walaupun kenyataan menunjukkan demikian, dalam sanubari setiap pribadi anggota masyarakat Minangkabau masih tersimpan suatu ide keharmonisan bila ditinjau dari situasi hubungan saudara kembar yang dibatasi kampung atau di desa-desa. Hubungan batin yang terputus antara saudara kembar masih sangat sedikit hanya sekitar 15%, walaupun hubungan lahir yang terputus mencapai 40%.
   
Penyebab terputusnya hubungan antara saudara kembar ada 4 bentuk , yakni (1)perhatian orang tua yang terbagi dengan orang lain(35%), (2)favoritisme orang tua terhadap satu anak(30%),(3) pengalihan rasa kesal anak terhadap orang tua(15%), dan (4)kurangnya pemahaman diri anak(20%). Penyebab masih utuhnya hubungan antara saudara kembar adalah adanya ikatan batin yang kuat diantara keduanya (54%), masih ada rasa peduli dan kasih sayang diantara keduanya(46%).

Jika hubungan antara saudara kembar selalu terputus, oleh responden diberikan alternatif dampak negatifnya sebagai berikut (1) timbulnya permusuhan antara saudara kembar(35%), (2) hilangnya kasih sayang diantara saudara(35%), (3) tidak ada kepedulian lagi satu sama lain(30%).

Sebaliknya, dampak positifnya jika hubungan antara saudara kembar harmonis atau terjaga adalah, (1) saling menyayangi dan menghormati antara saudara yang satu dengan yang lain(60%) (2) saling peduli satu sama lain(40%).

INTERPRETASI DATA

Sebuah karya sastra dapat dipandang sebagai jembatan dunia normative dan dunia objektif. Karya sastra harus menggambarkan idealisme masyarakatnya, sekaligus mengungkapkan gambaran realitas sosial masyarakatnya. Cerpen Penumpang Kelas Tiga ditinjau dari kacamata ini, memenuhi kriteria itu. Idealism hubungan kakak beradik apalagi saudara kembar harus berlangsunng secara harmonis ada keseimbangan tugas dan tanggung jawab, keseimbangan antara hak dan kewajiban antara saudara yang satu dengan yang lainnya. Pencerminan idealisme masyarakat Minangkabau ini dapat ditemukan dalam cerpen Penumpang Kelas Tiga melalui hubungan Nuan dan Nain. Namun,keharmonisan antara hubungan kakak adik ini, tidaklah mendominasi penceritaan. Dominasi penceritaan menyangkut ketidakharmonisan hubungan antara kakak beradik ini. Sungguhpun begitu, ternyata ketidakharmonisan hubungan kakak beradik saudara kembar ini berkaitan dengan realitas objektif. Ketidakharmonisan hubungan antara kakak beradik saudara kandung ini didukung oleh 60% responden (35% kurang harmonis, dan 25% tidak harmonis). Hanya sekitar 20% realitas objektif masyarakat Minangkabau yang menunjukkan keharmonisan hubungan antara kakak beradik saudara kembar ini.
   
Perilaku Nain yang meniduri istri dari saudara kembarnya sendiri merupakan perbuatan yang tidak terpuji. Perilaku Nain yang iri terhadap saudara kembarnya sendiri karena berhasil mendapatkan Wati, dan akhirnya balas dendam dengan meniduri Wati yang merupakan istri dari saudara kembarnya sendiri. Perilaku  Nuan dan Wati yang berselingkuh di belakang Nuan merupakan penyimpangan dari dunia idealisme masyarakat Minangkabau. Akan  tetapi, hal ini berkaitan erat dengan realitas objektif masyarakat Minangkabau dewasa ini. Oleh sebab itu, cerpen “Penumpang Kelas Tiga” dapat disimpulkan sebagai karya sastra yang menggambarkan realitas sosial masyarakat Minangkabau. Cerpen Penumpang Kelas Tiga tidak lagi sekedar penanda perubahan sosial budaya Minangkabau.

SIMPULAN

Berdasarkan data-data yang dipaparkan di atas, dapat disimpulkan bahwa tingkat kerelevanan antara cerpen Penumpang Kelas Tiga dengan realitas sosial budaya Minangkabau amat tinggi, baik secara idelisme maupun secara realitas objektif. Simpulan ini mengarahkan rekomendasi penilaian bahwa cerpen Penumpang Kelas Tiga merupakan cerpen yang berhasil mengungkapkan realitas sosial masyarakat Minangkabau saat ini. Sebagai pencerminan realitas sosial budaya masyarakat Minangkabau, cerpen ini merupakan pembenaran dari pendapat Hoggart yang yang mengatakan bahwa karya sastra pada semua tingkat disinari oleh nilai-nilai yang ditetapkan dan nilai-nilai yang diterapkan. Oleh sebab itu, yang dilakukan A.A Navis adalah meyakinkan dan menunjukkan bahwa kenyataan ini betul-betul berintegrasi dengan kehidupan individu dan masyarakat Minangkabau dalam struktur masyarakatnya. (Hoggart, 1975:170).
   
Sebagai pencatat fenomena masyarakat yang telah, sedang, atau akan terjadi cerpen Penumpang Kelas Tiga merupakan pembenaran dari konsepsi. Kalau teori Hoggart yang dijadikan indikator tolak ukur untuk penilaian karya sastra., maka hasil kajian ini membuktikan bahwa A.A. Navis berhasil mengetengahkan sebuah karya sastra yang bermutu. Alasannya jelas karena cerpen ini berkaitan erat dengan kondisi realitass masyarakat Minangkabau.

1 komentar: