Rabu, 27 Juni 2018

Analisis Sosiologis Cerpen ZAIM YANG PENYAIR KE ISTANA (Karya AA Navis)

Assalamualaikum rekan berbahasa! Pada kesempatan kali ini admin akan membahas tentang Analisis Sosiologis Cerpen Zaim yang Penyair ke Istana Karya AA Navis. Dalam artikel kali ini ada beberapa hal yang akan dibahas secara mendalam yaitu, Pengertian Cerpen, Penentuan Latar Cerpen, Penentuan Peran dan Hubungan Antar Peran, Permasalahan Cerpen Secara Normatif, Permasalahan Cerpen Secara Fiktif, Permasalahan Cerpen Secara Objektif, dan Interpretasi Data. Langsung saja simak bahasan di bawah ini! Selamat membaca!



ANALISIS SOSIOLOGIS CERPEN

PENENTUAN LATAR

Cerpen Zaim yang Penyair ke Istana mengungkapkan seorang teman sekamar yang bernama Zaim yang berasal dari Madura sedang sedih karena tidak memiliki jas untuk pergi ke Istana Presiden. Ada beberapa petunjuk dari data-data struktur cerpen ini tentang hal itu, seperti kutipan berikut.

Ketika aku tahu bahwa Pak Dali jadi teman sekamarku, bukan main senang hatiku.Tapi setelah dia membantingkan bokongnya di kasur tidur, rasa senangnya tidak kelihatan lagi. Dia murung.
Minum dulu,” kataku. Tadi panitia memberi tahu, besok pukul sepuluh kita sudah harus sampai di Istana, katanya.
Uh uh,” aku mendengus mengiyakan.
Tapi aku tidak bisa pergi.
Kenapa?
Aku tidak punya jas.
Kalau begitu kita sama.
Tapi aku ingin pergi. Ingiiin sekali.
Ke Istananya atau bertemu dengan Presiden? Dua-duanya.

Kata-kata yang menunjukkan sebuah keingin seseorang yang belum terpenuhi itu adalah Tapi aku ingin pergi. Ingiiin sekali.Sebab timbulnya keinginan tersebut, digunakanlah segala cara agar bisa tercapai. Tarji memberikan saran kepada Zaim, dia mengatakan di Pasar Rumput ada dijual baju bekas, Zaim harus berangkat pagi-pagi supaya bisa keburu. Kata-kata yang menunjukkan tempat kejadian adalah kasur tidur.
 
Melalui latar tempat dan waktu dalam cerpen ini dapat disimpulkan untuk sementara bahwa cerpen Zaim yang penyair ke Istana berbicara tentang kehidupan sosial dengan teman satu kamarnya. Perilaku tokoh cerpen dan kaitannya dengan data-data realitas objektif harus diselidiki untuk mendapatkan data-data sebagai bukti selanjutnya.

PENENTUAN PERAN DAN HUBUNGAN ANTAR PERAN

Sosok pribadi dalam  diri Aku dan  Zaim adalah suatu ambisi bagaimana agar  keinginan kami bisa tercapai ada juga panitia yang pengumpat dan Rosihan yang baik hati. Karya sastra sebagai pencerminan tatanan kehiduapan masyarakat , akan mengetengahkan berbagai peran yang diperankan tokoh cerita. Tidak ada dalam karya fiksi seorang tokoh cerita hanya memerankan satu peran saja. Pengarang akan memberikan berbagai peran terhadap tokoh-tokoh ceritanya (Asri, 2013:4).

Dalam cerpen “Zaim yang Penyair ke Istana”, seorang tokoh minimal memerankan dua peran. Tokoh Aku misalnya,memerankan peran sebagai teman dari Zaim dan sebagai seniman. Tokoh Zaim memerankan peran sebagai teman Aku dan penyair. Panitia sebagai  pengumpat, penolong dan pemberi saran agar Aku bisa mengikuti acata tersebut. Rosihan memerankan peran sebagai teman dari Aku dan Zaim serta peran tambahan dalam cerita ini.

Dengan demikian, sebuah peran dapat saja diperankan oleh beberapa tokoh sekaligus. Dalam hal penyelidikan permasalahan haruslah dilihat dari sudut peran bukan dari sudut tokoh. Permasalahan akan terlihat jika peran yang satu dihubungkan dengan peran yang lain. Beberapa peran yang diperankan tokoh tokoh-tokoh cerita tersebut dapat dihubungkan atau dikelompokkan menjadi (a) Aku dan Teman, (b) Teman dan Teman, (c) Teman dan Orang lain, (d) Orang lain dan Orang lain.

Pengelompokkan hubungan peran-peran tersebut sekaligus dapat dipandang sebagai topik-topik yang dibicarakan pengarang dalam karyanya. Topik-topik ini membantu peneliti untuk menelusuri lebih jauh permasalahan-permasalahan yang terdapat dalam karya sastra. Berdasarkan data-data hubungan peran di atas, setidaknya sudah ada empat kandidat permasalahan yang disinggung pengarang dalam karyanya. Keempat kandidat permasalahan itu dapat dirumuskan melalui konflik-konflik tokoh yang memerankannya. Jika terdapat peran yang tidak didukung oleh konflik, hubungan peran tidak dapat dilanjutkan sebagai penanda adanya permasalahan.

Contohnya adalah topik (c) Teman dan Orang lain, yang tidak terdapat konflik antara kedua peran itu. Tidak ada konflik antara panitia dengan Zaim. Oleh karena itu, dalam hal ini permasalahan topik (c) tidak bisa dilanjutkan sebagai permasalahan yang harus dikonfirmasikan dengan konteks sosial. Permasalahan tersebut harus ditempatkan sebagai permasalahan yang mengetengahkan perbedaan Aku dengan Teman (topik a).

Setelah mengikuti pola uji seperti di atas, tinggalah topik (b) dan (a), sebagai penyumbang permasalahan cerpen. Sementara itu, topik (c) dan (d) tidak dapat dilanjutkan sebagai penyumbang permasalahan sebab topik-topik  tersebut tidak didukung oleh konflik tokoh yang mendukung peran. Namun demikian, topik-topik itu masih berguna dalam menunjang penyelidikan. Topik-topik tersebut dapat dipandang sebagai latar tokoh atau pendukung peran.
 

Topik Aku dan Teman(a) didukung  oleh tokoh Aku dan Zaim.
Topik Orang lain dan Orang lain (d) didukung oleh  tokoh seperti tokoh Presiden dan Panitia.

Dari dua topik di atas, ternyata topik (a) yang didukung dua tokoh. Dengan demikian, pada topik (d) inilah terletak permasalahan utama cerpen Zaim yang Penyair ke Istana, sedangkan topik-topik lain merupakan permasalahan penunjang, persentuhan tokoh-tokoh cerpen ini harus ditempatkan sebagai pendukung permasalahan tokoh Aku dan Teman.


PERMASALAHAN CERPEN SECARA NORMATIF

Dalam sistem sosial dengan orang lain, Zaim adalah teman dari tokoh aku dan Rosihan. Dalam arti luas teman bisa menjadi penghibur bagi kita dan bisa
juga pembuat sedih bagi kita.

Presiden adalah pemimpin Negara dimana pemimpin bertanggung jawab atas kemajuan negara ini. Penunggalan kepemimpinan dalam satu negara dipilih melalui suara rakyat, dimana suara yang paling banyak bisa menduduki orang tersebut menjadi pemimpin
 

Berdasarkan hal tersebut, presiden mempunyai tugas untuk memimpin negara dan melayani rakyat dengan setulus hati.

“Barangkali Presiden bersimpati karena aku satu-satunya yang memakai batik buatan dalam negeri Atau mungkin Presiden memberi isyarat pada ajudan, perhatikan betul orang ini.”
“Isyarat yang baik kalau begitu,” kata Rosihan pula.

Dapat saja seorang pemimpin tersebut bertingkah selakunya di tengah masyarakat, tetapi ia tidak boleh melupakan perannya sebagai pemimpin.

Demikianlah pengaturan Aku dan Orang lain dalam sistem sosial budaya. Antara Aku dan Orang lain  terdapat hubungan yang baik tanpa lupa dengan jabatannya sebagai pemimpin.
 

PERMASALAHAN CERPEN SECARA FIKTIF

Dalam cerpen Zaim yang Penyair ke Istana tokoh Aku yang jadi sorotan karena mengikuti kongres di Jakarta.

Kongres adalah pertemuan besar para wakil organisasi (politik, sosial, profesi) untuk mendiskusikan dan mengambil keputusan mengenai berbagai masalah. Seperti yang tertera pada kutipan berikut.

“Aku mendapat undangan mengikuti suatu kongres di Jakarta. Penginapan peserta Hotel Indonesia. Hotel yang aku kagumi pada awal didirikan 35 tahun yang lalu. Saat kongres itulah aku baru bisa inapi.”
Dari gambaran kutipan-kutipan di atas terlihat hubungan mamak dan masyarakat dan bagaimana mamak berperilaku terhadap kehidupan bermasyarakatnya dan tidak melupakan perannya.


Dengan demikian dapat diketahui bagaimana cara seorang karakter Aku berusaha mencapai keinginan dan sekaligus menjalankan peran sebagai Teman dari Zaim. Dan juga bagaimana kebaikan karakter aku dengan orang lain.
 

PERMASALAHAN CERPEN SECARA OBJEKTIF

Untuk mendapatkan data-data objektif tersebut perlu dilakukan observasi data terhadap prilaku sosial dari para tokoh tersebut. Dalam hal ini terlihatlah kebaikan pada tokoh aku, dia meminjamkan uang untuk membelikan baju Zaim agar Zaim bisa datang ke Istana dan bertemu langsung dengan Presiden. Sumber datanya diambil secara acak dari banyaknya orang yang mengikuti kongkres di Istana Presiden tersebut. Mungkin sumber data ini belum representatif untuk keterwakilan perilaku sosial orang yang menghadiri acara kongres tersebut, tetapi juga menampak suatu hubungan antara Aku dan teman serta pendekatan dengan orang lain.

Situasi umum yang dialami karakter aku dan teman menurut responden, yang menyatakan harmonis sekali sekitar 70%, biasa-biasa saja 50%, kurang baik 0%. Sebaliknya prilaku teman dan orang lain menurut responden menyatakan harmonis 13%, biasa-biasa saja 13%, dan kurang baik 2%. Dilihat dari segi karakter orang lain dan orang lain menurut responden menyatakan bahwa tingkat harmonis mereka 13%, biasa-biasa saja 15%, dan kurang baik 1%. Dan yang terakhir dilihat dari segi karakter Aku dan orang lain menunjukkan tingkat haromis 20%, biasa-biasa saja 13%, kurang baik 1%.

Data-data itu menunjukkan bahwa hubungan antara aku dan Zaim sangatlah harmonis dan menunjukkan pula karakter yang baik, tidak pelit, saling menolong sesama teman dan bisa menjadi contoh yang baik bagi orang lain.


INTERPRETASI DATA

Sebuah karya sastra dapat dipandang sebagai jembatan dunia normative dengan dunia objektif. Karya sastra harus melambangkan idealisme masyarakatnya, sekaligus mengungkapkan gambaran realitas sosial masyarakatnya. Cerpen Zaim yang penyair ke Istana ditinjau dari kacamata ini, memenuhi kriteria itu. Idealisme antara hubungan aku dan teman harus berjalan harmonis, agar bisa menjadi panutan bagi orang lain, bahwa kita sebgai teman jika melihat teman kita sedang sedih lebih baik sedikit menghiburnya agar hatinya senang.

Banyak data kongkret yang harus diteliti bagaimana pendekatan mereka sebagai teman yang baik, apakah sudah banyak dilakukan pada waktu sekarang ini, dilihat dari sifat mereka, mereka sangatlah ambisius untuk mengikuti keingininan mereka berdua agar bisa pergi ke istana dan bertemu dengan Presiden, tujuan tersebut juga bisa menjadi motivasi untuk para pembaca cerpen Zain yang penyair ke Istana.

Ketiga alasan yang diberikan responden tersebut bisa mempermudah kita menilai bagaimana sifat dan watak dalam cerpen tersebut, dalam pengumpulan data yang diperoleh setengah dari responden memilih tingkat keharmonisan antara Aku dan teman sangatlah harmonis, diperkirakan pengumpulan datanya sekitar 45% sangat harmonis, berbeda dengan hubungan karakter aku dan orang lain yang diperoleh hanya biasa-biasa saja, hasil data yang diperoleh sekita 30% biasa-biasa saja.


SIMPULAN

Berdasarkan data-data yang dipaparkan diatas, dapat disimpulkan bahwa tingkat kerelevan cerpen Zain yang penyair ke Istana dengan realitas sosial sekitar sangatlah baik. Sebagai pencerminan realitas sosial budaya. Oleh sebab itu yang dilakukan karakter aku kepada teman adalah seorang teman yang peduli kepada temannya, memiliki keinginan yang sama, percaya diri terhadap suatu hal yang telah dia lakukan.

Sebagai pencatat fenomena masyarakat yang telah, sedang, atau akan terjadi cerpen Zain yang Penyair ke Istana merupakan konsepsi Hoggart dalam karya sastra untuk mengemukakan nilai-nilai yang diinginkan. Maka hasil kajian ini membuktikan bahwa penulis berhasil mengetengahkan hasil karya sastra yang bermutu. Alasannya karena cerpen ini berkaitan erat dengan kehidupan keseharian kita.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar